Laman

Senin, 14 Juni 2010

FiRst TimE

ini adalah cerpen pertama aku yang berhasil aku selesaikan,,,,

pengennya sich bisa dikirim ke majalah-majalah,,tapi agak ga pede,,cerpennya ga terlalu bagus,,,

akhirnya aku putuskan untuk mempostingnya di blog ini,,,


SISTER, I’M SO SORRY

“Awas,……..” Arez berteriak sambil berlari kearah Irez dan menerjang tubuhnya hingga mereka berdua terjatuh. “Apa sih yang sedang kau lakukan sehinnga kau tidak melihat ada motor yang hampir saja menabrakmu?” tanyanya dengan ekspresi kemarahan sekaligus ketakutan.
“Aww……….” ucap Irez memandang kearah siku tangannya yang terasa perih. Tangannya terluka dan mengeluarkan sedikit darah.
“Tanganmu berdarah. Lebih baik kita cepat pulang dan kita obati lukamu sebelum infeksi.” ajak Arez, prihatin dengan luka Irez tanpa dia peduli dengan tangannya yang juga terluka.
“Jangan sok peduli padaku. Seharusnya aku yang bertanya padamu,” tukas Irez sambil memandang Arez dengan heran bercampur tidak suka. ”Apa yang kau lakukan disini? Seharusnya kau masih berada di sekolahmu. Dan mana pak Joko?”
“Aku disini karena mau menjemputmu. Pak Joko tidak bisa menjemputmu karena dia mengantarkan mama ke mall.”
“Kenapa mama tidak memberitahuku? Dengan begitu aku bisa naik taksi.”
”Tadi mama memang mau mennghubungimu untuk memberitahu, tapi aku melarangnya. Aku bilang, aku yang akan menjemputmu dan mama setuju dengan saranku.”
”Kau tidak perlu repot-repot menjemputku. Aku bisa pulang sendiri naik taksi.”
”Apa salahnya aku menjemputmu? Kau itu kan kakakku dan kebetulan aku ada disini. Dan kenapa kau tidak mau aku menjemputmu?” Arez kesal dengan kata-kata Irez.
”Sudahlah. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Lagipula kau pulang bukan untuk mendengar ocehanku kan!!” Irez masuk ke mobil disusul oleh Arez.
Arez tidak melanjutkan bicaranya. Dia tahu bagaimana sifat kakak perempuannya itu. Irez selalu tampak tidak senang bila dia pulang ke rumah. Dan Arez hanya bisa memaklumi.

*********

Makam malam berlangsung sunyi. Entah karena mereka terlalu konsentrasi dengan makanannya atau karena sedang malas berbincang-bincang, tapi yang pasti Irez tidak pernah senang dengan acara makan malam bersama, apalagi bila disana ada Arez. Setelah makan malam usai, Irez memilih untuk langsung masuk ke kamarnya. Beberapa saat kemudian Arez menyusul Irez ke kamarnya.
”Ada perlu apa kau kesini?” tanya Irez saat melihat Arez masuk ke kamarnya.
”Kenapa kau selalu tidak suka melihatku pulang? Apa aku punya salah padamu?”
”Tidak. Kau tidak pernah punya salah apa-apa padaku,” jawab Irez tanpa menghentikan pekerjaannya dan memandang Arez. ”Lagipula ini belum akhir pekan, kenapa kau sudah ada disini?”
”Aku bosan berada disana. Disana penuh dengan aturan. Semuanya serba diatur, sampai makan pun diatur.” Arez diam sejenak sebelum mulai bicara lagi. Karena Irez tidak menangggapi perkataannya, Arez melanjutkan bicaranya. ” Aku ingin berhenti dan pindah sekolah. Aku....”
”Apa??? Kau ingin keluar? ucap Irez yang tanpa dia sadari telah bangkit dari duduknya dan memandang Arez dengan tatapan penuh kemarahan. ”Kau memang keterlaluan.”
Arez pun bangkit dari duduknya, mensejajarkan dirinya dengan Irez.
”Apa salahnya. Kau harus tahu dari dulu aku tidak pernah menginginkan untuk sekolah disana. Mama yang memaksaku dan saat itu aku tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Sekarang sudah waktunya aku untuk melakukan apa yang aku inginkan.”
”Lebih baik sekarang kau keluar dari kamarku.” Irez sudah tidak tahan dengan pembicaraan ini. ”Sejak dulu kau memang hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau tidak pernah memikirkan orang lain, tak sekalipun.” Dengan perasaan kesal bercampur marah dia kembali menekuni pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.
Arez hanya bisa menuruti perkataan Irez tanpa sedikitpun membantah. Dia pergi dari kamar Irez yang tanpa disadari telah membangkitkan kenangan akan masa lalu pada diri Irez dan menjatuhkan air mata ke pipinya yang tadi belum sempat keluar.

*********
Juni 2008,
Saat itu Irez masih berada di kelas 3 SMP. Dua bulan mendatang dia sudah akan berhadapan dengan ujian nasional. Lulus dari sana dia pasti akan melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA), tapi dia belum menentukan akan melanjutkan kemana. Sampai akhirnya dia jatuh cinta pada SMA Bakthi Persada.
Dia telah jatuh cinta pada SMA BP sejak pertama dia bertemu dengan siswa-siswa SMA BP, saat mereka sedang memperkenalkan sekolahnya pada siswa–siswa di kelas Irez. Seragam yang bagus, sekolah yang besar dan menarik, asrama, dan fasilitas sekolah yang lengkap, Irez sangat menyukainya, amat sangat menyukainya.
Sejak saat itu Irez bertekad untuk bisa masuk SMA BP seperti cita-citanya. Dia melakukan berbagai cara untuk bisa lulus dengan nilai yang sempurna dan bisa masuk SMA BP tanpa tes. Dan sampai saatnya tiba, semuanya cita-citanya hancur seketika, bagaikan seisi langit runtuh dan menimpanya, sampai dia tidak sanggup untuk berdiri lagi. Sampai akhirnya dia menyadari bahwa dia tidak akan pernah bisa masuk SMA BP, tidak akan pernah.
*********

”Ma, ada yang harus aku bicarakan dengan Mama,” ucap Arez ketika sudah berada di ruang kerja Mamanya.
”Ada apa? Apakah tidak bisa kita bicarakan nanti, Mama agak sibuk sekarang.”
Tanpa memperhatikan permintaan Mamanya Arez langsung membicarakan sesuatu yang ingin dia bicarakan.
”Aku ingin keluar dari sekolah itu Ma,” Arez berhenti sejenak menunggu apa yang akan dikatakan Mamanya. Karena belum juga ada tanggapan dia melanjutkan bicaranya. ”Aku sudah tidak tahan Ma. Terlalu banyak peraturan. Aku ingin sekolah disekolah biasa bukan di SMA BP yang ketat itu.”
Irina berhenti dari pekerjaannya dan beranjak mendekati putranya.
”Dengar, kau tidak boleh keluar dari sekolah itu. Kau tahu, begitu banyak Orang Tua yang ingin anaknya bisa sekolah di sana dan seharusnya kau merasa beruntung. Jadi jangan berpikiran untuk keluar dari sekolah itu. Oke!!”
”Ma, tapi aku tidak suka sekolah di sana. Mama yang dulu memaksaku tanpa Mama bertanya dulu apakah aku suka atau tidak. Sekarang aku hanya ingin Mama mendengarkan dan memenuhi permintaanku.”
”Mama tidak mungkin salah. Saat kau mendengar kau akan bersekolah di sana kau tidak berkomentar sedikitpun, jadi Mama berpikir bahwa kau menyukainya. Jadi.....”
”Ma, yang ingin sekolah di sana itu bukan aku tapi Irez dan Mama tahu itu, tapi kenapa Mama tidak mengabulkan keinginannya. Mama malah mengacuhkannya.”
”Arez, dengar, ” Irina mengambil napas panjang dan dengan cepat menghembuskannya kembali. ”Mama melakukan ini karena kau lebih punya peluang. Kau lihat dulu, kau bisa langsung diterima tanpa tes karena nilaimu memenuhi standar sekolah itu, dan untuk Irez walaupun nilainya sedikit di bawahmu, tapi nilainya tidak memenuhi standar, jadi dia harus mengikuti tes masuk dan peluangnya sangat kecil. Mama tidak ingin dia kecewa.”
”Dari mana Mama bisa tahu kalau Irez akan gagal dalam tes itu. Irez belum mencobanya, mungkin saja dia bisa berhasil dan sekarang bersekolah denganku. Mama tidak pernah memberinya kesempatan. Mama menghalangi cita-citanya.”
”Arez, sekali lagi dengarkan Mama. Mama....... ”
”Sudahlah Ma, sebenarnya percuma juga kita membicarakan masa lalu, karena itu tidak akan pernah terulang lagi dan aku tidak bisa mengubahnya. Cara satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah keluar dari sekolah itu, agar tidak lebih menyakiti Irez. ” Arez berbalik, sudah membuka pintu dan siap untuk pergi saat didengarnya Irina memanggilnya.
”Arez, tunggu, ” Arez terhenti sejenak sebelum akhirnya dia melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang kerja Mamanya. ”Mama belum selesai bicara denganmu, jangan meninggalkan Mama saat pembicaraan ini belum selesai. Kembali ke sini. Arez..Arez... ” Irina terus mencoba memanggil Arez, tapi sudah terlambat, Arez telah menghilang di balik pintu kamarnya.

*********

Pembicaraan kemarin malam sangat berbekas untuk mereka bertiga, masing-masing merenungkan apa yang seharusnya mereka lakukan setelahnya, hingga malam ini mereka sekeluarga memutuskan untuk tidur lebih cepat.
Irez juga memutuskan untuk tidur lebih cepat. Dia berbaring di ranjangnya, walaupun belum mengantuk dan matanya tidak bisa dipejamkan, tapi dia tidak sedang ingin melakukan sesuatu malam ini. Saat dia sedang merenung, tiba-tiba dia mendengar ada yang membuka pintu kamarnya dan berjalan ke samping tempat tidurnya. Dengan cepat Irez memejamkan matanya, berpura-pura tidur, karena sedang tidak ingin meladeni orang itu, yang tak lain adalah Arez.
”Hah...Kau sudah tidur rupanya, ” Sembari duduk disisi tempat tidur yang tidak ditiduri oleh Irez. ”Aku hanya ingin bilang aku sudah bicara dengan Mama tentang keinginku untuk keluar dari sekolah, tapi kau pasti sudah tahu sendiri Mama tidak mengijinkannya. Maafkan aku karena tidak sejak dulu melakukan ini dan membiarkanmu selalu membenciku, ” Irez tersentak mendengar perkataan Arez, apakah sikapnya sangat terlihat kalau dia membencinya, tapi apakah dia juga tahu apa penyebabnya. ”Aku tahu kau yang sangat ingin sekolah di sana, tapi Mama malah menyekolahkan aku bukan kau, karena itu kau selalu tidak suka setiap melihatku pulang ke rumah, kan.” Irez semakin tersentak dengan kenyataan bahwa Arez juga tahu apa penyebab dia membencinya. Irez terus mendengarkan perkataan Arez, dia ingin tahu apa lagi yang diketahui oleh Arez. ”Karena itu pasti selalu mengingatkanmu pada kesedihanmu, karena gara-gara aku kau tidak bisa sekolah di sana,” Arez terdiam beberapa saat untuk mengatur napasnya agar normal kembali sebelum melanjutkan bicaranya. ”Selama ini aku tidak bisa konsentrasi mengikuti pelajaran, karena setiap kali aku di sana aku pasti akan teringat wajah bencimu sekaligus juga wajah penuh kesedihan. Aku binggung harus berbuat apa. Akibatnya nilai-nilaiku jelek dan pihak sekolah tidak bisa mentolerirnya, mereka memberiku surat peringatan DO, kalau sampai semester depan nilaiku masih seperti itu aku akan langsung dikeluarkan dari sekolah. Sebenarnya aku pulang bukan untuk berakhir pekan, tapi mengantarkan SP ini pada Mama dan Papa dan aku belum memberikannya, tapi sudahlah bukankah aku akan keluar dari sekolah itu, jadi SP itu sudah tidak perlu lagi aku berikan pada mereka, ” Dia tak sengaja memandang ke arah jam yang ada di meja belajar Irez yang menunjukkan pukul 23.00 WIB. ”Baiklah sudah hampir tengah malam, aku banyak bicara ternyata, tapi yang pasti aku akan berusaha agar Mama mengabulkan permintaanku, dengan begitu aku harap kau tidak akan membenciku lagi dan akan memaafkanku dan aku akan melihat wajahmu cerah kembali. ” Arez bersiap pergi dari kamar Irez, tentunya setelah mengucapkan selamat tidur dan dengan pikiran bahwa Irez tidak mendengar apa pun perkataan yang tadi dia bicarakan.
Sebelum Arez mencapai pintu, dengan cepat Irez memanggilnya karena takut Arez keburu pergi dari kamarnya. Alangkah kagetnya Arez saat mendengar Irez memanggilnya. Tadi dia yakin kalau Irez sedang tidur dan tidak akan mendengar perkataannya, tapi dia harus kecewa karena ternyata Irez tidak sungguh-sungguh tidur tadi.
”Ar, kau tidak perlu melakukan itu. Tetaplah bersekolah di sana. Maafkan aku karena selama ini aku egois dan kejam padamu, ” air matanya telah mendesak untuk keluar, tapi dia mencoba untuk menahan, ”Aku tak tahu kalau kau begitu tersiksa karena perbuatanku, maafkan aku....” Irez tidak bisa melanjutkan perkataannya. Air matanya telah jatuh membasahi pipinya. Yang kini dia lakukan hanyalah menangis tersedu-sedu seakan menyesali perbuatannya.
Refleks, Arez berjalan mendekati Irez lalu memeluknya dengan erat. Mencoba meredakan emosinya, tapi yang terdengar hanyalah tangisan Irez yang semakin menjadi saja. Arez membiarkan Irez mengeluarkan semuanya dengan tetap memeluknya. Dalam hati Arez merasa bahagia akan kejadian ini. Itu artinya Irez sudah tidak marah lagi dan mereka bisa berbaikan. Akhirnya apa yang selama ini diimpi-impikan Arez bisa tercapai, menjalani kehidupan yang tenang tanpa harus khawatir Irez akan marah dan benci padanya lagi.
Begitupun dengan Irez, dia merasa lebih tenang sekarang. Setelah hampir selama 7 bulan dia marah pada Arez. Kini dia sudah merelakan Arez untuk tetap melanjutkan sekolahnya di sana sampai akhir. Dia berjanji mulai sekarang tidak akan pernah lagi bermusuhan dengan Arez apapun masalahnya. Dan dia akan belajar menjadi seorang kakak yang baik yang melihat sesuatu masalah bukan hanya dari sudut pandangnya saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar